Sejak saya berhenti kerja dua tahun lalu, pertanyaan yang paling sering mampir ke WhatsApp saya bukan soal cucu atau resep kue. Justru soal ini: "Pak, alat apa sih yang beneran kepake di rumah? Jangan yang ribet-ribet." Nah, artikel ini jawaban jujurnya. Saya bukan orang teknologi, dulu kerja di bagian administrasi, dan sampai sekarang masih bingung kalau disuruh setting printer. Tapi justru karena itu, saya cuma bakal cerita alat yang benar-benar saya pakai tiap hari.
Sebenarnya, alat pintar itu bikin ribet atau memudahkan?
Ini pertanyaan yang paling sering saya terima. Jawaban singkatnya: tergantung. Kalau kamu beli alat pintar karena ikut-ikutan tetangga, ya ribet. Tapi kalau beli karena ada satu masalah nyata yang mau diselesaikan, justru menyelamatkan.
Contoh nyata di rumah saya. Dulu saya sering lupa matikan setrika. Bukan sekali dua kali. Sampai suatu hari istri menemukan setrika masih panas dua jam setelah saya tinggal ke pasar. Sejak itu kami pasang colokan pintar yang bisa dimatikan lewat HP. Selesai. Masalahnya beres, bukan nambah masalah.
Jadi sebelum beli apa pun, tanya dulu ke diri sendiri: masalah apa yang mau saya selesaikan? Kalau tidak ada jawabannya, uangnya mending buat beli sayur seminggu.
Alat apa saja yang benar-benar saya pakai tiap hari?
Ini daftar jujur, bukan hasil searching. Semua sudah saya pakai minimal enam bulan.
- Colokan pintar (smart plug). Ini juara. Saya pakai buat setrika, dispenser, dan pompa air. Bisa dijadwalkan mati otomatis. Harganya waktu beli sekitar seratus ribuan per buah. Hemat listriknya lumayan, tapi yang lebih penting: hati tenang.
- Lampu tidur otomatis. Bukan yang mahal. Cuma lampu kecil yang nyala sendiri saat gelap. Saya sering bangun malam, dan dulu sering tersandung. Sekarang aman.
- Rice cooker kecil dengan timer. Ini favorit istri. Beras dicuci malam, dijadwalkan masak jam lima pagi, begitu kami bangun nasi sudah matang. Tidak perlu bangun subuh cuma buat nyalakan tombol.
- Kipas angin dengan remote. Terdengar sepele, tapi buat orang tua yang sudah susah jongkok, remote itu berkah. Tidak perlu bangun malam-malam buat matikan kipas.
- Termometer ruangan digital. Kecil, murah, tapi membantu. Kami jadi tahu kapan ruangan terlalu lembap, jadi tahu kapan harus buka jendela.
- Pengatur waktu (timer) colokan manual. Buat yang tidak mau ribet pakai HP. Cukup putar, selesai. Saya pakai buat pompa akuarium.
- Speaker kecil buat dengar radio. Ini bukan alat pintar, tapi yang paling sering saya pakai. Radio masih hidup, lho, dan suaranya menemani saya menyiram tanaman.
Yang justru tidak saya rekomendasikan
Kamera keamanan yang notifikasinya bunyi tiap ada kucing lewat. Sudah saya cabut setelah dua minggu. Juga robot penyedot debu murah yang selalu nyangkut di kabel. Beli yang bagus atau jangan beli sama sekali. Yang setengah-setengah cuma bikin kesal.
Kalau budget terbatas, mulai dari mana?
Pertanyaan ini juga sering muncul, biasanya dari teman-teman yang uang pensiunnya pas-pasan. Saran saya: mulai dari satu colokan pintar saja. Satu. Jangan langsung beli sepuluh.
Pakai sebulan. Rasakan apakah benar-benar membantu. Kalau iya, baru tambah satu lagi. Kalau tidak, ya sudah, tidak perlu lanjut. Cara ini menyelamatkan saya dari beli banyak barang yang akhirnya nganggur di lemari.
Alat teknologi itu seperti obat: dosisnya harus pas. Kebanyakan justru bikin pusing.
Satu lagi yang penting. Jangan malu bertanya ke anak atau cucu kalau bingung setting. Saya dulu gengsi. Akhirnya malah salah pencet dan harus reset ulang. Sekarang saya santai saja telepon anak saya, tanya lewat video call, selesai dalam lima menit.
Apa yang perlu diperhatikan soal keamanan dan listrik?
Ini bagian yang sering dilewatkan orang. Alat pintar tetap butuh listrik, dan listrik tidak kenal usia. Beberapa hal yang saya pelajari dari tukang listrik langganan:
- Jangan menumpuk terlalu banyak colokan di satu stopkontak. Sekadar hemat tempat, tapi berisiko.
- Perhatikan daya alat. Setrika dan dispenser butuh daya besar, jangan dipasang di colokan pintar murahan yang kapasitasnya kecil.
- Kalau kabel mulai hangat saat dipakai, lepas. Jangan ditawar.
- Bersihkan debu di sekitar colokan secara rutin. Terdengar sepele, tapi debu tebal bisa bikin panas.
Saya juga selalu mencatat merek dan tanggal beli di buku kecil. Kalau rusak, saya tahu harus klaim ke mana. Cara lama, tapi terbukti berguna.
Jadi, teknologi rumahan itu buat siapa?
Buat siapa saja yang punya satu masalah kecil di rumah dan mau menyelesaikannya dengan tenang. Bukan buat yang mau rumahnya terlihat canggih di foto. Bukan juga buat yang ingin ikut tren.
Buat saya pribadi, alat-alat ini bukan soal gaya. Ini soal bisa duduk tenang di teras sore hari tanpa kepikiran setrika masih nyala atau tidak. Itu saja. Dan ternyata, ketenangan kecil itulah yang paling mahal setelah pensiun.
Kalau kamu baru mau mulai, pilih satu. Satu saja. Coba sebulan. Kalau cocok, lanjut. Kalau tidak, hentikan. Rumah tidak perlu jadi pintar semua. Cukup bagian yang benar-benar kamu pakai.